Wednesday, December 25, 2013

Soybean (Glycine max L Merril)



Kamil (1996) yang menyatakan bahwa tinggi rendahnya berat biji tergantung banyak atau sedikitnya bahan kering yang terdapat di dalam biji, bentuk biji dan ukuran biji yang dipengaruhi oleh gen didalam tanaman itu sendiri.  Beberapa peneliti melaporkan bahwa bobot 100 biji diatur oleh sifat bawaan tanaman, tetapi sifat ini selalu mempunyai ketergantungan dengan komponen hasil lain (Ivers dan Fehr, 1978).  Sebagai contoh apabila berat biji per tanaman meningkat sering diikuti oleh berkurangnya bobot biji.  Namun begitu, Egli (1981) melaporkan adanya tanaman yang mempunyai jumlah biji yang banyak tetapi bobot bijinya juga relatif berat atau ukuran bijinya besar.
Suprapto dan Kahirudin (2007) melaporkan bahwa sifat bobot 100 biji masing-masing genotipe kedelai memiliki variabilitas yang rendah hingga sedang serta memiliki nilai heritabilitas dalam arti luas dan sempit yang tinggi.  Hal ini mengindikasikan bahwa sifat bobot 100 biji  kedelai lebih banyak dikendalikan oleh faktor genetiknya. Hasil yang sama dilaporkan juga oleh Rasyad (2011) yang menyatakan bahwa keragaman bobot 100 biji kedelai yang ditanam di lahan gambut lebih dominan dipengaruhi oleh faktor genetik dibanding pengaruh dari faktor lingkungan.
Yutono (1985) melaporkan bahwa untuk memperoleh hasil biji yang maksimal diperlukan pupuk fosfor yang cukup, selain itu juga didukung dengan faktor genetik yang respon terhadap pupuk P. (Yardha et al.,2005) melaporkan bahwa komponen hasil seperti indeks panen dan hasil per plot lebih ditentukan oleh sifat genetik tanaman, karena berkaitan dengan kemampuan tanaman beradaptasi dengan lingkungannya. Indeks panen merupakan salah satu indikator komponen hasil yang menentukan produksi kedelai.

No comments:

Post a Comment