Kamil (1996) yang
menyatakan bahwa tinggi rendahnya berat biji tergantung banyak atau sedikitnya
bahan kering yang terdapat di dalam biji, bentuk biji dan ukuran biji yang
dipengaruhi oleh gen didalam tanaman itu sendiri. Beberapa peneliti
melaporkan bahwa bobot 100 biji diatur oleh sifat bawaan tanaman, tetapi sifat
ini selalu mempunyai ketergantungan dengan komponen hasil lain (Ivers dan Fehr, 1978). Sebagai contoh apabila berat biji per tanaman
meningkat sering diikuti oleh berkurangnya bobot biji. Namun begitu, Egli (1981) melaporkan adanya tanaman yang mempunyai jumlah biji
yang banyak tetapi bobot bijinya juga relatif berat atau ukuran bijinya besar.
Suprapto
dan Kahirudin (2007) melaporkan bahwa sifat bobot 100 biji
masing-masing genotipe kedelai memiliki variabilitas yang rendah hingga sedang
serta memiliki nilai heritabilitas dalam arti luas dan sempit yang tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa sifat bobot 100
biji kedelai lebih banyak dikendalikan
oleh faktor genetiknya. Hasil yang sama dilaporkan juga oleh Rasyad (2011) yang menyatakan bahwa
keragaman bobot 100 biji kedelai yang ditanam di lahan gambut lebih dominan
dipengaruhi oleh faktor genetik dibanding pengaruh dari faktor lingkungan.
Yutono
(1985) melaporkan bahwa untuk memperoleh hasil biji yang
maksimal diperlukan pupuk fosfor yang cukup, selain itu juga didukung dengan
faktor genetik yang respon terhadap pupuk P. (Yardha et al.,2005)
melaporkan bahwa komponen hasil seperti indeks panen dan hasil per plot lebih
ditentukan oleh sifat genetik tanaman, karena berkaitan dengan kemampuan
tanaman beradaptasi dengan lingkungannya. Indeks panen merupakan salah satu
indikator komponen hasil yang menentukan produksi kedelai.
No comments:
Post a Comment